“Duh! Sudah adzan, sebentar lagi ah shalatnya… tanggung kerjaannya tinggal sedikit lagi.”
“Eh kok adzan? Padahal filmnya lagi seru nih! Nanti saja shalatnya kalau filmnya sudah selesai ah. Tapi waktu shalatnya nanti keburu habis?! Tunggu iklan saja deh kalau begitu, shalatnya juga harus cepat nih.”
Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah…
Ketahuilah bahwa orang-orang tersebut di atas termasuk jenis orang yang melalaikan shalatnya. Perhatikanlah firman Allah, yang artinya “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’uun: 4-5)
Al-Haafidz Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalah:
- Orang tersebut menunda shalat dari awal waktunya sehingga ia selalu mengakhirkan sampai waktu yang terakhir.
- Orang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Orang tersebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan shalat.
Allah SWT memang menjanjikan pahala dan
kemudahan dalam segala urusan bagi orang yang mengerjakan shalat. Namun
ada persyaratannya. Jadi bila syarat tersebut tidak terpenuhi maka yang
diterimanya bukan pahala apalagi kemudahan melainkan malah kesengsaraan.
Karena rahmat Allah akan menjauh darinya. Inilah yang dimaksud
kecelakaan dalam ayat diatas. Allah SWT memerintahkan
’mendirikan/menegakkan ’ shalat (aqooma – yuqiimu ) bukan sekedar
’melaksanakan’ shalat ( sholla – yusholli). Menegakkan atau mendirikan
shalat maknanya, dalam mengerjakan shalat harus ada niat, ada
kesungguhan.
Kata ” Saahuun ” yang berarti
lalai berarti adalah mengabaikan shalat, diantaranya adalah wudhu’ yang
tidak sempurna, gerakan shalat ( rukuk, sujud dll yang tidak sempurna),
meng-akhirkan shalat (tidak meng-awalkannya) tanpa alasan yang dapat
diterima. Termasuk orang yang shalat namun tidak meyakini bahwa dengan
shalat Allah akan memberinya kemudahan hidup, bahwa dengan shalat Allah
SWT akan memberinya pahala. Orang-orang seperti ini shalatnya tidak
khusuk dan cenderung terburu-buru.
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya” . ( QS.Al-Mukminun (23):1-2).
“Orang-orang yang khusyu`,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah(2):45-46).
Sebaliknya shalat yang terburu-buru /
lalai sesungguhnya tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan
bathin serta tidak akan pula melahirkan ahklak yang baik. Padahal
seharusnya dengan shalat akan muncul prilaku yang sempurna, akhlakul
khorimah. Karena kunci ibadah adalah shalat. Orang yang akhlaknya buruk
dapat dipastikan shalatnya juga buruk. Allah SWT bahkan memasukkan
orang-orang yang lalai ini ke dalam golongan orang Munafik. Sama halnya
dengan orang yang mengerjakan shalat dengan riya’, yaitu yang
mengerjakan shalat bukan karena mencari ridho’Nya melainkan untuk
dilihat orang lain. Ini adalah salah satu ciri orang Munafik. Akhlak
mereka buruk padahal ahklak adalah cerminan hati. Lebih jauh lagi, Allah
akan memasukkan orang seperti ini sebagai golongan orang yang
mendustakan hari Pembalasan.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : ”
Shalat yang paling berat bagi orang Munafik ialah shalat Isya’ dan
shalat Subuh. Seandainya mereka mengerti pahala yang terdapat pada dua
shalat itu, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak ”.( HR Bukhari dan Muslim).
Termasuk juga dalam kategori lalai adalah
laki-laki yang menghindari shalat berjamaah di dalam masjid atau
musholla, terutama shalat Isya dan Subuh.
Dari Abu Musa ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa mengerjakan shalat di dua waktu dingin (Subuh dan Isya’ secara berjamaah ) niscaya dia akan masuk surga“. ( HR Bukhari Muslim).
Hanya dengan alasan tertentu sajalah
diantaranya uzur dan sakit, orang diizinkan tidak melaksanakan shalat
berjamaah di masjid. Bahkan sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda
bahwa orang yang shalat berjamaah namun shafnya tidak rapat saja maka
berdosalah ia. Perumpamaannya seperti perempuan yang tidak menutup
auratnya dengan baik.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “ Ada
seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah saw dan berkata :”Wahai
Rasulullah, sungguh aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid”.
Maka Rasulullah memperkenankan (memberinya keringanan). Namun setelah
ia hendak pulang, Rasululah memanggilnya kembali dan bertanya : ”Apakah
engkau mendengar adzan untuk shalat ?”. Ia menjawab : “Ya”. Beliau
bersabda :”Kalau begitu datanglah.” (HR Muslim).
Satu hal penting yang harus diingat,
salah satu sifat Allah yang harus kita imani adalah sifat cemburu. Allah
SWT tidak ridho’ ketika seorang hamba dalam keadaan shalat namun dalam
hatinya ada sesuatu yang lain disamping-Nya. Suatu ketika Rasulullah
pernah bersabda bahwa sifat cemburu Allah jauh lebih besar dari
cemburunya Sa’ad, seorang sahabat. Diriwayatkan bahwa Sa’ad segera akan
mengeluarkan pedangnya begitu melihat ada lelaki yang memandang dan
mendekati istrinya. Sesungguhnya sifat cemburu adalah sifat yang baik.
Karena hal ini menunjukkan kebesaran cinta dan kasih-sayang seseorang.
Itulah sebabnya mengapa Allah SWT melaknat dan murka kepada orang yang
menduakan-Nya. Tidak ada kecintaan apapun yang boleh menyamai apalagi
mengalahkan kecintaan kepada-Nya, sekalipun itu cinta seorang suami /
istri terhadap pasangannya maupun cinta terhadap anak atau orang tua.
Wallahu’alam bishshawab.Apa Adzabnya ?Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari sahabat Samurah bin Junab radhiyallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam kisah tentang mimpi beliau):
“Kami mendatangi seorang laki-laki yang terbaring dan ada juga yang lain yang berdiri sambil membawa batu besar, tiba-tiba orang tersebut menjatuhkan batu besar tadi ke kepala laki-laki yang sedang berbaring dan memecahkan kepalanya sehingga berhamburanlah pecahan batu itu di sana sini, kemudian ia mengambil batu itu dan melakukannya lagi. Dan tidaklah ia kembali mengulangi lagi hal tersebut sampai kepalanya utuh kembali seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti pertama kali.”
Disebutkan dalam penjelasan hadits ini “Sesungguhnya laki-laki tersebut adalah orang yang mengambil Al-Qur’an dan ia menolaknya, dan orang yang tidur untuk meninggalkan shalat wajib.”
Lalu Bagaimana Orang yang Meninggalkan Shalat Secara Mutlak ?
Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat secara keseluruhan hukumnya kafir keluar dari Islam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perbedaan antara kita dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi -Shahih)
Demikianlah, marilah kita bersama-sama berusaha maksimal untuk memperbaiki shalat kita karena ketahuilah bahwa amalan yang pertama akan dihisab oleh Allah di akhirat nanti adalah shalat. Dan kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kehinaan dan kondisi orang-orang yang di adzab Allah karena lalai dari shalat.......
Wallahu’alam bishshawab.......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar