Sabtu, 10 September 2011

Lalai Dalam Shalat DAN adzabnya

Allahu Akbar!… Allahu Akbar! Allahu Akbar!… Allahu Akbar!
“Duh! Sudah adzan, sebentar lagi ah shalatnya… tanggung kerjaannya tinggal sedikit lagi.”
“Eh kok adzan? Padahal filmnya lagi seru nih! Nanti saja shalatnya kalau filmnya sudah selesai ah. Tapi waktu shalatnya nanti keburu habis?! Tunggu iklan saja deh kalau begitu, shalatnya juga harus cepat nih.”
Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah…

Ketahuilah bahwa orang-orang tersebut di atas termasuk jenis orang yang melalaikan shalatnya. Perhatikanlah firman Allah, yang artinya “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’uun: 4-5)
Al-Haafidz Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalah:
  1. Orang tersebut menunda shalat dari awal waktunya sehingga ia selalu mengakhirkan sampai waktu yang terakhir.
  2. Orang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Orang tersebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan shalat.
Dan siapa saja yang memiliki salah satu dari ketiga sifat tersebut maka ia termasuk bagian dari ayat ini (yakni termasuk orang-orang yang lalai dalam shalatnya)....
Allah SWT memang menjanjikan pahala dan kemudahan dalam segala urusan bagi orang yang mengerjakan shalat. Namun ada persyaratannya. Jadi bila syarat tersebut tidak terpenuhi maka yang diterimanya bukan pahala apalagi kemudahan melainkan malah kesengsaraan. Karena rahmat Allah akan menjauh darinya. Inilah yang dimaksud kecelakaan dalam ayat diatas. Allah SWT memerintahkan ’mendirikan/menegakkan ’ shalat (aqooma – yuqiimu ) bukan sekedar ’melaksanakan’ shalat ( sholla – yusholli). Menegakkan atau mendirikan shalat maknanya, dalam mengerjakan shalat harus ada niat, ada kesungguhan.
Kata ” Saahuun ” yang berarti lalai berarti adalah mengabaikan shalat, diantaranya adalah wudhu’ yang tidak sempurna, gerakan shalat ( rukuk, sujud dll yang tidak sempurna), meng-akhirkan shalat (tidak meng-awalkannya) tanpa alasan yang dapat diterima. Termasuk orang yang shalat namun tidak meyakini bahwa dengan shalat Allah akan memberinya kemudahan hidup, bahwa dengan shalat Allah SWT akan memberinya pahala. Orang-orang seperti ini shalatnya tidak khusuk dan cenderung terburu-buru.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya” . ( QS.Al-Mukminun (23):1-2).
Orang-orang yang khusyu`,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah(2):45-46).
Sebaliknya shalat yang terburu-buru / lalai sesungguhnya tidak akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan bathin serta tidak akan pula melahirkan ahklak yang baik. Padahal seharusnya dengan shalat akan muncul prilaku yang sempurna, akhlakul khorimah. Karena kunci ibadah adalah shalat. Orang yang akhlaknya buruk dapat dipastikan shalatnya juga buruk. Allah SWT bahkan memasukkan orang-orang yang lalai ini ke dalam golongan orang Munafik. Sama halnya dengan orang yang mengerjakan shalat dengan riya’, yaitu yang mengerjakan shalat bukan karena mencari ridho’Nya melainkan untuk dilihat orang lain. Ini adalah salah satu ciri orang Munafik. Akhlak mereka buruk padahal ahklak adalah cerminan hati. Lebih jauh lagi, Allah akan memasukkan orang seperti ini sebagai golongan orang yang mendustakan hari Pembalasan.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : ” Shalat yang paling berat bagi orang Munafik ialah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengerti pahala yang terdapat pada dua shalat itu, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak ”.( HR Bukhari dan Muslim).
Termasuk juga dalam kategori lalai adalah laki-laki yang menghindari shalat berjamaah di dalam masjid atau musholla, terutama shalat Isya dan Subuh.
Dari Abu Musa ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Barangsiapa mengerjakan shalat di dua waktu dingin (Subuh dan Isya’ secara berjamaah ) niscaya dia akan masuk surga“. ( HR Bukhari Muslim).
Hanya dengan alasan tertentu sajalah diantaranya uzur dan sakit, orang diizinkan tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Bahkan sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda bahwa orang yang shalat berjamaah namun shafnya tidak rapat saja maka berdosalah ia. Perumpamaannya seperti perempuan yang tidak menutup auratnya dengan baik.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “ Ada seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah saw dan berkata :”Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid”. Maka Rasulullah memperkenankan  (memberinya keringanan). Namun setelah ia hendak pulang, Rasululah memanggilnya kembali dan bertanya : ”Apakah engkau mendengar adzan untuk shalat ?”. Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda :”Kalau begitu datanglah.” (HR Muslim).
Satu hal penting yang harus diingat, salah satu sifat Allah yang harus kita imani adalah sifat cemburu. Allah SWT tidak ridho’ ketika seorang hamba dalam keadaan shalat namun dalam hatinya ada sesuatu yang lain disamping-Nya. Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda bahwa sifat cemburu Allah jauh lebih besar dari cemburunya Sa’ad, seorang sahabat. Diriwayatkan bahwa Sa’ad segera akan mengeluarkan pedangnya begitu melihat ada lelaki yang memandang dan mendekati istrinya. Sesungguhnya sifat cemburu adalah sifat yang baik. Karena hal ini menunjukkan kebesaran cinta dan kasih-sayang seseorang. Itulah sebabnya mengapa Allah SWT melaknat dan murka kepada orang yang menduakan-Nya. Tidak ada kecintaan apapun yang boleh menyamai apalagi mengalahkan kecintaan kepada-Nya, sekalipun itu cinta seorang suami / istri terhadap pasangannya maupun cinta terhadap anak atau orang tua.
Wallahu’alam bishshawab.Apa Adzabnya ?
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari sahabat Samurah bin Junab radhiyallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam kisah tentang mimpi beliau):
“Kami mendatangi seorang laki-laki yang terbaring dan ada juga yang lain yang berdiri sambil membawa batu besar, tiba-tiba orang tersebut menjatuhkan batu besar tadi ke kepala laki-laki yang sedang berbaring dan memecahkan kepalanya sehingga berhamburanlah pecahan batu itu di sana sini, kemudian ia mengambil batu itu dan melakukannya lagi. Dan tidaklah ia kembali mengulangi lagi hal tersebut sampai kepalanya utuh kembali seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti pertama kali.”
Disebutkan dalam penjelasan hadits ini “Sesungguhnya laki-laki tersebut adalah orang yang mengambil Al-Qur’an dan ia menolaknya, dan orang yang tidur untuk meninggalkan shalat wajib.”
Lalu Bagaimana Orang yang Meninggalkan Shalat Secara Mutlak ?
Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat secara keseluruhan hukumnya kafir keluar dari Islam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perbedaan antara kita dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi -Shahih)
Demikianlah, marilah kita bersama-sama berusaha maksimal untuk memperbaiki shalat kita karena ketahuilah bahwa amalan yang pertama akan dihisab oleh Allah di akhirat nanti adalah shalat. Dan kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kehinaan dan kondisi orang-orang yang di adzab Allah karena lalai dari shalat.......
Wallahu’alam bishshawab.......

Shalat itu Wajib – Tiang/pondasi Agama

Rukun Islam yang kedua (setelah membaca 2 kalimat syahadat) adalah shalat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya).
Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk shalat 5 waktu:
”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]

”… Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An Nisaa’:103]
”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” [Al Baqarah:43]
”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” [Al Kautsar:2]
”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]
Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:
”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al ’Ankabuut:45]
Shalat untuk mengingat Allah:
”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thaahaa:14]
Didiklah anak/keluarga anda untuk shalat:
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman:17]
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Thaha : 132)
Hendaknya kita tetap memelihara/mengerjakan shalat kita:
“Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat wusthaa” (Al Baqarah :238)
Shalat sangat penting. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang tidak mengerjakannya berarti dia meruntuhkan agama:
“Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi)
Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah shalat. Barang siapa tidak shalat berarti dia kafir:
“Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079
Amal yang pertama dihisab adalah shalat. Begitu dia tidak shalat, meski puasa, zakat, haji, rajin sedekah, dia langsung dimasukkan ke neraka:
”Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain (Thabrani)
Jangan sampai kita dan keluarga kita yang sudah baligh bolong-bolong shalatnya. Apalagi sampai meninggalkannya.
Orang yang tidak mengerjakan shalat disiksa di neraka:
“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya….” (Al-Ma’un: 4-5)
“Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian2.” (Maryam: 59)
Hendaknya kita shalat tepat waktu:
”Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad menegakkan agama Allah (Bukhori dan Muslim)
Jika shalat 5 waktu, hendaknya berjama’ah:
Anas r.a.: Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar sebelum imam mereka pergi (Muslim)
Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian) (Bukhori dan Muslim)
Jika shalat berjama’ah, jangan mendahului imam. Tunggu imam ruku dulu, baru anda ruku. Tunggu imam sujud dulu, baru anda suju:
Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)
Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)
Semoga kita di akhirat nanti termasuk dalam golongan orang yang mengerjakan shalat.....amin amin

Rabu, 07 September 2011

KIAT JITU MEMPERCANTIK WAJAH dgn TAHAJUD

Siapa yang tidak ingin tampil cantik? Kecantikan merupakan merupakah satu hal yang sangat diinginkan oleh para wanita. Mereka para kaum Hawa itu banyak yang telah mencoba berbagai kiat, baik dengan menggunakan berbagai kosmetik, pemutih atau menggunakan lulur, ekstrak bengkoang dan lain-lain agar wajahnya putih alami dan berseri.
Terlepas dari keberhasilan semua trik-trik di atas yang notabene masih dipertanyakan terlebih lagi mengandung zat-zat kimia yang berbahaya, kenapa tidak menggunakan kiat yang satu ini?
Apa kiatnya? Yaitu shalat tahajjud di malam hari.
Berkata Imam Ibnul Qayyim, Sesungguhnya shalat malam itu dapat memberikan sinar yang tampak di wajah dan membaguskannya Ada sebagian istri yang memperbanyak pelaksanaan shalat malam. Ketika ditanyakan kepada mereka mengenai hal tersebut, mereka menjawab, Shalat malam itu dapat membaguskan wajah dan kami senang jika wajah kami menjadi lebih bagus.Demikian yang dituliskan oleh Mahmud Mahdi Al-Istanbuli di bukunya Kado Perkawinan halaman 312 ketika mengutip perkataan Ibnul Qayyim di buku Raudha Ath-Thalibin. [1]
Perlu juga diingat bahwa kiat ini bukan cuma monopoli kaum Hawa saja, kaum Adam pun perlu juga menerapkannya.
Keutamaan Shalat Tahajjud
Disamping hikmah diatas yang bisa di dapat dari melaksanakan shalat malam, shalat malam ini pun mempunyai keutamaan yang lain. Bahkan inilah yang lebih penting.
1. Allah akan mengangkat ke tempat yang terpuji, dalilnya adalah
“Dan pada sebagian malam hari bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.(Al Israa : 79).
2. Shalat malam dapat mendekatkan diri kepada Allah dan dapat menghapuskan dosa, dalilnya adalah
Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam karena shalat malam itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, ibadah yang mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, serta penutup kesalahan dan penghapus dosa. (HR. Tirmidzi no. 3549, Al Hakim I/380, Baihaqi II/502. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaa Al Ghalil II/199/no. 452). [2]
3. Kemuliaan orang beriman ada pada shalat malam
Jibril berkata, Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman ada dengan shalat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain. (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 831). [3]
Shalat malam yang paling utama adalah pada sepertiga malam yang terakhir. Pada saat ini doa akan dikabulkan oleh Allah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasannya Nabi pernah bersabda:
Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni.Demikianlah keadaannya hingga fajar terbit. (HR. Bukhari no. 145 dan Muslim no. 758). [4]

shalat lail

Rasulullah saw hampir tidak pernah melewatkan malam tanpa mengerjakan shalat malam atau Tahajud. Bagaimana dengan kita ? Sudahkan kita melaksanakan perintah shalat tahajud ? Atau bahkan belum pernah sekalipun mengerjakannya ? Tahukah kita kalau shalat ini perintah Allah ? Rasulullah dan para sahabat mendakwamkan shalat ini karena shalat ini diperintahkan oleh Allah swt. langsung dalam Al Qur`an.
QS. Al Israa` : 79.
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا﴿٧٩﴾
”Wa minal laili fatahajjad bihi naafilatan laka `asaa an yab`atsaka rabbuka maqaaman mahmuudan”
”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.
Diantara shalat-shalat sunnah yang ada, shalat tahajud adalah shalat yang paling utama. Karena shalat ini diperintahkan langsung oleh Allah dengan beberapa ayat dalam Al Qur`an. Diantaranya dalam surat Al Insaan, surat Muzammil dan surat Al Israa`. Shalat tahajud ini mengandung banyak keistimewaan. Sampai-sampai Rasulullah saw hampir tidak pernah meninggalkannya. Hampir setiap malam Rasulullah saw bangun untuk mengerjakan shalat tahajud. Sampai telapak kaki beliau membengkak. Begitu juga para sahabat. Mereka mengikuti apa yang dikerjakan oleh Nabi saw.
Sebelum turun ayat 20 surat Muzzamil shalat tahajud merupakan shalat yang diwajibkan. Tetapi Allah mengetahui betapa beratnya shalat malam bagi umat Rasulullah, sehingga turunnya ayat tersebut memberikan sedikit keringanan bagi para sahabat. Dan menjadikan shalat tahajud yang semula wajib menjadi sunnah hukumnya. Bisa kita bayangkan seandainya shalat malam menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Pasti akan sangat banyak yang tidak sanggup melaksanakannya.
Bangun diwaktu malam bukanlah perkara yang ringan bagi kebanyakan orang. Apalagi bangun untuk mengambil air wudlu lalu mengerjakan shalat, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sebagian besar kita lebih suka bangun malam untuk “ngopi” ke warung atau menikmati sajian televisi berupa pertandingan bola. Banyak dari kita “nglilir” di tengah malam, tapi banyak juga dari kita yang tidak ingin melakukan shalat malam. Paling cuma ke kamar mandi untuk buang hajat kecil lalu segera melanjutkan mimpi yang tertunda.......!!!